Hari (Akhirat adalah hari) yang tidak bermanfaat lagi harta mahu pun anak pinak. Kecuali seseorang yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang sejahtera” [26: 88-89]:

Pada hakikatnya, untuk memiliki hati yg bersih ini adalah perkara yg paling susah. Ramai orang dengan mudah dapat mengerjakan yg fardhu, solat, puasa, etc tetapi untuk memiliki hati yg bersih belum tentu.Hati yg bersih ini terpancar dari perilaku, riak wajah seseorang. Org yg hatinya tulus dan suci dan sering mengingati Allah, wajahnya mendatangkan kedamaian pada yg melihatnya, dan membuatkan org mengingati Allah apabila mendengar tutur katanya yg sopan, berhikmah dan apabila melihat akhlaknya yg mulia sejajar dengan ajaran Rasulullah saw.

Dan bukan mudah untuk mendapatkan hati yg bersih. Semua pancaindera termasuklah penglihatan, pendengaran, tangan, kaki, dan makanan yg di makan semuanya perlu dijaga utk memperoleh hati yg tulus dan suci.

Untuk merawat hati yang sudah bercahaya dan memperindahnya maka seseorang perlu terus-menerus mempertahankan dan mengamalkan kebaikan. Hati akan terus bersih, bening dan bercahaya jika kejahatan terus dihindari, jauh dari debu-debu maksiat, dengki, riya, takabbur. Perumpamaan hal ini adalah seorang ibu hamil yang selalu ikhlas menahan sakit, lemah tanpa merintih demi mengandung anak yang ia cintai. Maka jika kita mencintai permata (hati kita) maka kita harus merawatnya terus-menerus.

Al-Ghazali mendefenisikan hati manusia menjadi tiga bentuk, yaitu: hati yang sehat, hati yang sakit dan hati yang mati. Hati yang sehat akan berfungsi optimal, mampu memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk. Hati mereka kenal betul dengan Allah, sifat, af’al, kasih sayang, janji, qudrah, sunnah dan kemulian-Nya.

Kondisi hati ini akan selalu bersyukur atas nikmat, sabar dan ridha akan taqdir dan cobaan yang diberikan-Nya. Hati yang mampu berma’rifat (mengenal Allah) ini adalah salah satu yang menjadikan manusia lebih ungul dari makhluk lainnya.

Hati yang bening inilah yang mampu menjaga prilakunya, menahan pandangannya, menjaga lisan, perut dan mampu memilih pergaulan yang baik. Hati menjadi suci dan bening karena tidak ada tingkah laku yang mengotorinya, ingatnya selalu pada Allah, istiqamahnya terus-menerus tanpa henti, da’wahnya ikhlas tanpa pamrih dan seterusnya.

Mengenai pentingnya menjaga mata Nabi SAW bersabda: “Pandangan itu salah satu panah dari panah iblis yang berbisa. Siapa saja yang meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberinya keimanan yang terasa sangat manis di dalam hati. (HR. al-hakim).

Tiada seorang Muslim yang melihat wanita lalu dia memejamkan matanya, melainkan Allah s.w.t. akan memberi pada rasa lazat beribadat dihatinya” (Riwayat Ahmad & Al-Tabrani)

Mengenai menjaga lisan Nabi SAW bersabda: “Setiap ucapan bani adam itu membahayakan dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata yang berupa amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kejahatan) dan zikrullah. (HR. Tirmidzi). Demikianlah seterusnya.

Hati adalah pusat kebaikan dan kejahatan. Hati adalah ibarat Raja yang punya hak veto dalam memerintah seluruh anggota jasmani untuk berbuat baik atau jahat. Oleh karena itu bersihkanlah ia, beningkanlah dari segala kotoran, isilah dengan sifat-sifat yang baik agar ia tetap terang benderang. bersinar dan bercahaya serta mudahnya berbalik terus dalam kebaikan dan taqwa.

Hati ini perlu sentiasa dirawat..seperti firman Allah
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (91:9) dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (91:10).”

Langkah-langkah yang harus kita lakukan adalah: Pertama, Mencari ilmu hati yakni ilmu yang bermanfaat untuk membersihkan hati, bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakatnya. Kedua, Membersihkan hati dari sifat-sifat tercela (takhalli). Ketiga, mengisi hati dengan sifat-sifat terpuji yang dimulai dari sifat zuhud (tidak berambisi dan mengejar kesenangan hawa nafsu di dunia saja) dan mujahadah atau bersungguh-sungguh menuju Allah dalam istilah al-Ghazali dan Keempat, Istiqamah dan berdo’a agar hati tetap bersih, bening, bercahaya dan hanya berbalik dalam dan untuk kebaikan saja.

“Kadang-kadang kita mengutamakan kebersihan dan keindahan tubuh, tempat tinggal dan lain-lain tetapi kita tidak peka apabila hati kita tidak bersih daripada kotoran batin dan maksiat, padahal ALLAH hanya memandang hati mereka seperti firman-Nya dalam surah asy-Syams, ayat 9 hingga 10.”(imam ghazali)

Advertisements